Di Jeruji Menulis

Lewat imajinasilah, seseorang akan menembus ruang yang kedap. Jeruji yang sempit mungkin tak ubahnya ilusi. Di ruang terbatas orang bisa saja melakukan sesuatu yang melampaui batas. Resepnya, menulislah!

Banyak tulisan yang lahir dari penjara. Entah karena penulis yang dipenjara, atau bukan siapa-siapa. Karena menulis bukanlah soal siapa dia, tapi menulis di ruang terbatas adalah cara membebaskan diri yang “sunyi”, pun yang senduh. Semacam menyembuhkan diri dengan imajinasi. Bertaubat dengan pikir dan pena.

Rutan Enrekang punya ruang menumbuhkan imajinasi dan olah pikir bernama Perpustakaan. Tapi juga punya pegawai yang ikhtiarnya luar biasa dalam membina warganya. Mengajak para warganya belajar dengan beragam kreativitas dan kegiatan yang produktif. Sungguh akan membentangkan pemandangan yang optimistik.

Efeknya mungkin dapat dilihat dari untaian warganya dalam kumpulan tulisan saat berlatih. Hal yang sederhana dan singkat, tapi menenteramkan. Selamat membaca!

Klik disini untuk membaca Kumpulan Tulisan WBP Enrekang

Fenomena Gadget Anak Usia Dini

Oleh Raslina

Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi dewasa ini ibarat pisau bermata dua. Ada sisi positif, pun sisi negatifnya. Semakin mudahnya akses terhadap informasi maupun berbagai kebutuhan hanya dengan menggerakkan ujung jari adalah peran positif teknologi yang menyusup di semua lini kehidupan manusia. Sehingga para perusahaan startup pun mengeluarkan sebuah statement “Go online or Goodbye”. Artinya, siapa yang tak mampu beradaptasi dengan teknologi, maka hidupnya pasti akan susah.

Kita juga tak bisa menyangkal, bahwa di sisi lain efek negatif perkembangan teknologi, terkhusus teknologi digital juga berimbas pada seluruh aspek kehidupan. Pada keluarga sebagai contoh kongkrit. Betapa gadget telah merampas waktu anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Bahkan hingga berjam-jam wajahnya tertunduk menekuri layar gawai yang memainkan film atau game kesukaannya. Dan fenomena ini, hampir terjadi di seluruh keluarga. Hari-hari libur diisi dengan bermain gadget, dan ironisnya perilaku anak ini adalah hasil tiruan dari orang tuanya. Sudah tabiatnya, anak adalah peniru ulung. Otaknya bagai spon yang menyerap air. Karena akal belum berfungsi untuk memfilter informasi yang masuk melalui panca indra, maka apapun yang tertangkap olehnya akan discan persis seperti objeknya. Itu sebabnya, kadang ada yang berkelakar, “Jika ingin tahu perangai orang tuanya, maka lihatlah perilaku anaknya, sebab pohon apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Maka tak heran jika, keluhan seputar tumbuh kembangan anak pun ibarat tumbuhnya jamur di musim hujan. Yang autis lah, speech delay, ADHD, dan gangguan-gangguan lainnya—walaupun ini bukan faktor tunggal—menjadi permasalahan yang dihadapi oleh para orang tua.

Fenomena gadget anak usia dini tidak muncul begitu saja tanpa ada faktor penyebabnya. Sudah menjadi hukum kausalitas (sunnatullah), ada sebab tentu ada akibat. Jika kita mau menelisik lebih dalam tentang fenomena tersebut, maka didapati bahwa kecanduan gadget pada anak dikarenakan oleh tidak fahamnya para orang tua akan perannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya, terutama Ibu yang mengemban amanah dari Allah SWT sebagai “ummu wa rabbatul bait” (Ibu dan pengatur rumah tangga). Menjadi seorang Ibu, bukanlah pekerjaan mudah seperti yang disangka oleh bayak orang. Profesi ibu, baik yang bekerja di ranah domestik maupun publik, harus profesional sebagaimana profesi lainnya. Profesional dalam artian bahwa ada ilmu yang harus dikuasai untuk bisa menjadi seorang Ibu yang akan melahirkan generasi penerus risalah Rasulullah. Jangan dikira, bahwa para bunda yang fokus di ranah domestik (sumur, kasur dan dapur) hanya cukup bagi yang tamatan sekolah dasar. Dalam Islam, profesi Ibu haruslah disandang oleh mereka yang memiliki ilmu yang mumpuni yang diperolehnya sejak sebelum dia menjadi seorang Ibu. Sehingga potret rumah tangga yang akan dijalaninya, sangat jelas tergambar di benaknya. Ibarat orang yang sudah kuliah bertahun tahun, tinggal praktek saat memasuki dunia kerja. Para Ibu yang bekerja di ranah publik pun, yang keluar rumah mencari nafkah untuk membantu suaminya, tidak menghilangkan peran utamanya sebagai Ibu dan Pengatur Rumah Tangga. Dia harus memiliki tenaga ekstra serta mafahim untuk bisa terus memantau perkembangan anak-anaknya. Bukan malah menjadikan menjadikan “pekerjaannya” sebagai alasan untuk membiarkan mereka tenggelam dalam dunia gadget disaat sang Ibu kelelahan dan menuntut “me time”.

Kebiasaan buruk anak dalam bermain gadget, sebenarnya bisa diminimalisir bahkan bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih produktif. Tentu, jika ada keinginan kuat dari para bunda. Mengapa bunda ? Karena dialah seharusnya yang paling mengenal anaknya luar dalam. Dialah yang paling sering berinteraksi dengan putra putrinya, bukan ART (Asisten Rumah Tangga). Karena dialah manager rumah tangga, yang bertanggung jawab bagi kondusif tidaknya “kapal” yang mengangkut penumpangnya berlayar di lautan kehidupan.

Hal yang paling praktis yang dapat dilakukan adalah melakukan pembatasan waktu penggunaan gadget atau manajemen gadget. Ini berlaku untuk semua anggota keluarga. Diskusikan dengan pasangan dan anak yang lebih besar, waktu untuk bermain gadget. Pada anak usia 1-3 tahun, tahan untuk tidak mengenalkan gadget. Beri mereka permainan yang edukatif, dan bagi waktu anda untuk menemaninya bermain. Gunakan alarm sebagai tanda berakhirnya penggunaan gadget pada anak yang masih belum mampu mengontrol waktunya. Diskusikan terlebih dahulu berapa lama anak bisa menggunakan gadget dalam sehari, dan lakukanlah. Konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat, bagaimanapun anak mengamuk karenanya. Insya Allah, dengan komitmen dan kesabaran para bunda, efek negatif gadget dapat diminimalkan.

Setelah kesepakatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan, maka cobalah untuk mengenalkan pada anak tentang hal-hal produktif yang dapat dilakukan dengan gadget. Mengoptimalkan youtube untuk membuat prakarya, mengajari anak tentang literasi informasi, menjadikan internet sebagai sumber belajar tak terbatas, sampai kepada bagaimana menjadikan media sosial sebagai lahan dakwah.

Tentu saja, ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Emosi bunda akan teruji. Seberapa besar keinginan kita untuk menaklukkan gadget agar bisa tunduk sesuai dengan kehendak kita. Amalkanlah ilmu tentang karakteristik orang yang berfikir amik (mendalam), dengan menjadikan fakta sebagai objek berfikir, bukan sebagai subjek. Niscaya kemenangan kan berpihak padamu.
Wallahu ‘Alam.

Penulis adalah Pustakawan Muda Dispustaka Enrekang

Mobilisasi Pengetahuan Melalui Perpustakaan Digital Enrekang di Era Disruptif

Pengetahuan tidak lagi hanya dapat dijumpai di perpustakaan atau dalam pustaka tercetak. Tetapi kini merambah ke format digital yang saat ini dominan digandrungi masyarakat, khususnya generasi millennial (digital native). Hal ini tidak lepas dari disrupsi digital yang memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek, termasuk perpustakaan yang dikelola secara konvensional.

Tak hanya itu, internet menjadi menu familiar dalam genggaman ponsel yang tak terpisah dari diri ‘kekinian’. Singkatnya, pengetahuan pun harus digenggam masyarakat melalui pustaka digital. Inilah yang mendorong banyak instansi perpustakaan memperluas layanannya dengan membangun pustaka digital. Salah satunya, juga dibangun oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang dengan meluncurkan Perpustakaan Digital Enrekang (PDE).

Tentu kehadiran PDE tidak untuk ‘gaya-gayaan’ atau sekedar mengikuti tren digitalisasi pustaka. Tetapi, dibangun untuk memenuhi kebutuhan informasi dan akses pengetahuan masyarakat yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Semacam menyapa dan menghampiri generasi digital untuk tetap membaca di belantara pilihan aplikasi. Di samping itu, PDE dapat menjadi salah satu solusi atas belum merata dan memadainya perpustakaan konvensional di seluruh wilayah kabupaten.

Format bacaan yang kian multi dan berkembang ini musti diikuti dengan strategi peningkatan minat baca. Sebab digital hadir dengan beragam kepentingan dan godaan yang mungkin sama kompleksnya saat kita mengajak orang membaca buku (tercetak). Maka penyediaan akses pengetahuan dalam berbagai medium, tidak berarti apa-apa bila minat membaca tidak ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan yang mendayagunakan pustaka.

Lompatan ke digital, di satu sisi mungkin bagi sebagian orang, justru kian meninggalkan. Entah karena ia tak berpunya perangkat teknologi informasi, atau situasi yang tak mendukung ia tak mampu mengaksesnya. Yang pasti perpustakaan tak bisa menunggu persoalan membaca buku tercetak tuntas, lalu bergeser ke digital. Saat multimedia menjadi cara baru memobilisasi pengetahuan, maka cara baca dan ajakannya pun dilakukan secara multi dan simultan.

Tantangan ini mungkin tidak mudah, dimana era distruptif menawarkan berbagai kejutan. Tampilnya perpustakaan digital hari ini mungkin menganggu incumbent (pustakawan) agar berubah dan beradaptasi dengan digital. Tapi perubahan itu tidak akan berhenti di situ saja dan pada hari ini. Selalu ada yang berubah dari teknologi. Termasuk ajakan membaca akan terdisrupsi, yang boleh jadi berlangung dengan cara-cara yang sederhana namun bermakna.

Ambil contoh misalnya, inisiatif yang dilakukan pustaka bergerak dan relawan literasi dalam memobilisasi pengetahuan. Dengan media sosial mereka membangun jejaring dan simpul yang menembus keterbatasan sumber daya. Mereka bergerak bersama pustakanya, menciptakan peristiwa membaca yang tidak sesunyi membuka e-book di ponsel. Bukannya aktivitas personal, lebih pada merajut makna sosial dari membaca. Bukankah hal ini juga ‘menganggu’ para pustakawan agar bergerak?

Dan nyatanya Perpustakaan Nasional RI sedang menggaungkan “pustakawan bergerak”. Apakah tagline ini mengandung semangat menggerakan? Hal yang menarik bahwa era disrupsi juga menyoal tentang pustakawan yang tak sekedar menata pustaka, tapi menjadi manusia pustaka (pustakaman).

Saat menjadi pustakawan, gangguan semacam itu bisa menciptakan keresahan yang memancing untuk produktif. Misalnya dengan membuka ruang diskusi atau menjadi fasilitator pertemuan yang membincangkan buku tertentu pada setiap minggu. Dengan PDE, bahan diskusi berupa e-book dapat dipinjam dan dibaca oleh peserta diskusi sebelum mengikuti acara diskusi.

Pena Cinta Sang Wanita Tangguh

oleh Asmega Masri, S.Pd.I

Ulasan Buku karya Asmega Masri

Novel berjudul “Pena Cinta Sang Wanita Tangguh” adalah kisah perjalanan seorang singel parent. Mila merupakan tokoh utama dalam novel tersebut. Dalam novel ini diceritakan bahwa Mila adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana tetapi ia adalah gadis yang berprestasi. Ia sering mengikuti berbagai jenis perlombaan namun ia polos tentang kehidupan cinta dan asmara.

Mila merupakan gadis polos yang bersekolah di sekolah berasrama. Ia cukup dikenal sebagai siswa berprestasi baik dari segi akademik maupun ekstra kurikuler. Tapi dalam kesehariannya ia sosok gadis yang periang seperti teman seusianya.

Sejak mengenal sosok laki-laki yang ia kenal lewat surat Sahabat Pena, kehidupan asmaranya mulai nampak. Masa SMA memang adalah masa yang diwarnai oleh kisah cinta yang tak bisa terlupakan. Perkenalan melalui surat Sahabat Pena yang dibawa oleh sahabatnya waktu itu membuka kisah baru dalam kehidupan Mila.

Namanya Randi, ia adalah sosok pria yang kemudian mewarnai kisah dalam hidup Mila hingga anak gadis polos seperti Mila mulai merasakan sebuah benih cinta diantara mereka. Hingga mereka kemudian menjalin hubungan yang disebut hubungan jarak jauh. Namun hubungan mereka kadang tak semujur orang lain karena dibatasi oleh ruang dan waktu yang jauh. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, tak sekalipun bertemu. Sampai pada akhirnya mereka dipertemukan sekali pada sebuah kegiatan perlombaan yang diadakan di suatu waktu.

Hubungan mereka pun semakin nyata ketika mereka sama-sama memasuki dunia perkuliahan, hingga tepat 7 tahun, mereka memutuskan untuk menikah setelah Mila kemudian menyelesaikan kuliah dan bergelar sarjana.

Kehidupan rumah tangga Mila dan Randi di awal cukup bahagia. Mereka hidup sederhana dan mandiri. Namun seperti rumah tangga kebanyakan orang, kadang mereka diuji dengan berbagai konflik rumah tangga. Hingga tepat memasuki tahun ke 3 pernikahan mereka, baru mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang merupakan buah cinta mereka setelah 2 tahun penantian.

Konflik rumah tangga semakin besar ujiannya tepat ketika Mila baru seminggu melahirkan, suaminya mulai menampakkan keanehan dan berubah hingga masalah itu tak dapat diselesaikan, Mila semakin syok ketika Randi melayangkan surat cerai tepat ketika Mila baru menikmati menjadi seorang ibu. Tapi Mila harus menerima keputusan itu dengan tabah dan harus menerima takdir menjadi seorang ibu sekaligus sebagai ayah untuk putra semata wayangnya. Mila akhirnya menjadi seorang singel parent (janda) di usia yang masih sangat muda dan memiliki bayi yang masih sangat kecil meskipun terkadang ia mendapatkan cibiran buruk karena status janda yang ia sandang. Tapi Mila adalah sosok wanita yang kemudian menjadi semakin tangguh melalui semua persoalan hidupnya hingga akhirnya ia berusaha untuk bangkit sendiri dan mulai berbenah untuk memperbaiki situasi dan kehidupannya meski harus sendiri.

Novel “Pena Cinta Sang Wanita Tangguh” ini merupakan novel yang sesuai dengan kehidupan remaja dan kehidupan rumah tangga saat ini. Bahasa yang digunakan sangat ringan dan tentunya mudah dipahami. Terlebih lagi untuk mempercantik bahasa, novel ini dihiasi dengan narasi pembuka sebagai motivasi pada setiap bagian cerita sehingga terlihat menarik untuk dibaca. Cerita atau kisah dalam novel “Pena Cinta Sang Wanita Tangguh”seolah membawa pembacanya ke dalam alur setiap cerita sehingga membuat emosi pembaca semakin menggebu dan pada akhirnya mungkin akan membuat pembaca akan bersedih dan meneteskan air mata serta dapat menginspirasi pembaca.

Penulis adalah Alumni Kelas Menulis Satu Guru Satu Buku (SAGUSABU) 2018 Kabupaten Enrekang