Pendaftaran Lomba Video Pendek dan Cerita Pendek (Cerpen)

LOMBA VIDEO PENDEK

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei 2017), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustaka) Kab Enrekang menyelenggarakan lomba video pendek dengan mengangkat tema “Lokalitas Massenrempulu”, yang bercerita/narasi perihal

  • Konservasi alam dan inovasi pariwisata Enrekang
  • Nikmatnya kuliner (makanan dan minuman) Khas Enrekang
  • Ulasan sejarah, cagar budaya dan budaya Massenrempulu
  • Ekonomi Kreatif masyarakat (swadaya) Enrekang
  • Kearifan lokal dan sosok inspiratif Enrekang
  • Menumbuhkan budaya literasi dan ruang baca di Enrekang

 

PERATURAN LOMBA

  1. Peserta adalah SLTA, Mahasiswa, Umum
  2. Peserta mengunduh formulir pendaftaran di sini dan isian formulir dikembalikan melalui email dipustaka@gmail.com atau dapat mengambil dan mengembalikan formulir pendaftaran di Dispustaka (Jl Jenderal Sudirman No 8 Enrekang)
  3. Merupakan karya asli (orisinal) tidak duplikasi, tidak mengandung unsur SARA, kekerasan, pornografi dan menjaga hak pribadi.
  4. Karya belum pernah dimuat dalam lomba sejenis dan tidak sedang disertakan dalam lomba lainnya
  5. Durasi video maksimal 3 menit dengan format video (.mp4) dan diunggah ke Youtube dengan menuliskan : Lomba Video Pendek Festival Ma’Baca Dispustaka Enrekang
  6. Peserta lomba hanya mengirimkan satu karya
  7. Peserta membagikan tautan Youtube ke kanal facebook dengan akun fanpage Dispustaka Enrekang dengan tagar #FestivalMassenrempuluMembaca #LombaVideoMa’baca
  8. Peserta mengirimkan tautan video dan identitas peserta (individu/tim) berupa nama, sekolah/kampus/instansi/komunitas, alamat, no HP/WA, ke email dipustaka@gmail.com
  9. Dispustaka Enrekang berhak menggunakan atau mempublikasikan video yang masuk ke panitia untuk kepentingan nonkomersial.
  10. Seluruh video yang dikirimkan, sepenuhnya merupakan tanggungjawab pribadi peserta, panitia terbebas dari tuntutan apapun terkait video yang dikirimkan.
  11. Tiga Pemenang berhak atas piagam penghargaan dan menerima hadiah.
  12. Tim juri berasal dari praktisi. Tim juri berhak membatalkan karya yang pemenang apabila dikemudian hari ditemukan pelanggaran hak cipta.
  13. Hasil keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

 

DEADLINE DAN PENGUMUMAN :

  1. Seluruh karya video harus sudah terupload di Youtube dan tautannya di Facebook Dispustaka
  2. Video terposting paling lambat tanggal 19 Mei 2017
  3. Penjurian dan penilaian hasil karya dimulai tanggal 19-21 Mei 2017
  4. Pemenang diumumkan pada tanggal 21 Mei 2017 di www.dipustaka.com dan melalui Facebook Dispustaka

 

KRITERIA PENILAIAN

  • Kesesuaian narasi video dengan tema
    Makna dan pesan yang disampaikan
  • Nilai-nilai kehidupan dan kemanfaatan yang ditawarkan
  • Keaslian/Kekhasan isi cerita
  • Aspek lain yang memperlihatkan adanya inovasi

LOMBA MENULIS CERPEN

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei 2017), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Enrekang menyelenggarakan Lomba Cerita Pendek dengan mengangkat tema “Lokalitas Massenrempulu”.

KETENTUAN UMUM

  1. Peserta adalah pelajar SLTA, Mahasiswa dan Umum
  2. Peserta mengunduh formulir pendaftaran di sini dan mengembalikan formulirnya lewat email dispustaka@gmail.com atau peserta dapat mengambil dan mengembalikan formulir pendaftaran di Kantor Dispustaka

 

FORMAT PENULISAN :

  1. Cerpen diketik dengan Bahasa Indonesia, Font Times New Roman (12), kertas ukuran A4, line spacing 1,5
  2. Naskah Cerpen berjumlah 3-5 halaman (900-1.500 kata) dengan margin kertas 4, 3, 3, 3
  3. Naskah diberi identitas oleh penulis (a) Nama Penulis, (b) Instansi, (c) Judul naskah (d) nomor HP/WA/email

 

PERATURAN LOMBA :

  1. Isi cerpen memuat perihal “Lokalitas Massenrempulu” diantaranya Alam, Wisata, Kuliner, Sejarah dan Budaya Massenrempulu.
  2. Isi dan makna cerita tidak mengandung SARA dan harus sesuai dengan tema yang ditentukan
    Peserta hanya dapat mengirimkan satu cerpen.
  3. Naskah harus asli, bukan saduran atau terjemahan, dan merupakan karya peserta sendiri
  4. Naskah belum pernah diterbitkan/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun.
  5. Karya yang masuk berhak untuk diterbitkan oleh panitia
  6. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

 

DEADLINE DAN PENGUMUMAN :

  1. Soft Copy naskah harus sudah masuk ke email dipustaka@gmail.com dan print out (tercetak) dikirikm langsung ke Kantor Dispustaka, Jl. Jenderal Sudirman No. 8 Enrekang
  2. Pengumpulan naskah paling lambat tanggal 19 Mei 2017, pukul 16.00 WITA
    Penjurian dan penilaian hasil karya dimulai tanggal 19-21 Mei 2017
  3. Pemenang diumumkan di web www.dipustaka.com pada tanggal 21 Mei 2017

 

KRITERIA PENILAIAN

  • Kesesuaian isi dengan tema
  • Makna dan pesan yang disampaikan
  • Nilai-nilai kehidupan/keindahan/budaya yang ditawarkan
  • Keaslian/Kekhasan isi cerita
  • Aspek teknik penulisan

 

Kontak : Irsan (085399276953/WA) – Muh Naim (081355293479/WA)

Festival Massenrempulu Membaca 2017

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei 2017), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustaka) Kabupaten Enrekang mempersembahkan Festival Massenrempulu Membaca (Ma’baca) 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan masyarakat dengan buku. Selain itu, lewat Festival ini Dispustaka mengusung “Massenrempulu Membaca” sebagai sebuah spirit dan upaya bergerak dalam memantik masyarakat kabupaten Enrekang membaca. Disamping mengenalkan momen (peringatan) dan memaknai (refleksi) Hari Buku Nasional dengan beragam kegiatan.

Dalam Festival Ma’baca, beberapa item acara yang akan diadakan diantaranya Lomba Bercerita tingkat SD (8-9 Mei 2017), Lomba Pidato tingkat SLTA (24 Mei 2017), Lomba Menulis Cerita Pendek (3-19 Mei 2017) dan Lomba Video Pendek (3-19 Mei 2017) untuk Umum.

Adapun informasi terkait persyaratan mengikuti Lomba Menulis Cerpen dan Lomba Video Pendek dapat di klik di sini.

Kulit Sapi Kadonten Spesial Duri

Ahyar

Kulit sapi dan nangka muda. Bahan utama pembuatan sambalak kadonten. (Gura, 3 Agustus 2016)

Saat mendengar kata kulit sapi, mungkin yang terlintas dibenak sebagian orang adalah limbah dari hewan sapi yang tidak dapat diolah. Namun tidak demikian bagi masyarakat  Duri Enrekang khususnya bagi masyarakat Gura, desa Buntu Mondong dan sekitarnya. Di tangan ibu-ibu desa Buntu Mondong limbah dari hewan sapi ini dapat disulap menjadi sebuah kuliner yang bisa menggoyang lidah kita dengan sebuah masakan bernama “Sambalak Kadonten”. Masakan yang satu ini menggunakan kulit sapi dan nangka muda sebagai bahan dasarnya. Butuh kesabaran dalam pembuatan kuliner ini, namun semua itu akan terbayar lunas dengan sensasi rasa di lidah yang kita rasakan saat mencicipinya, dijamin lidah akan bergoyang ke sana kemari menikmati sensasi rasa dari masakan ini.

Menurut masyarakat desa Buntu Mondong, sambalak kadonten lahir pada saat masyarakat berusaha mencari inovasi dalam mengolah kulit sapi yang banyak dijumpai saat selesai Hari Raya Idul Kurban. Fenomena ini memang masih kita jumpai hingga sekarang. Dengan kreatifitas dan keuletan masyarakat tempo dulu dapat menciptakan sebuah masakan yang berasal dari bahan yang sederhana namun bercita rasa tinggi yang dapat dirasakan oleh anak cucunya hingga saat ini.

Di desa Buntu Mondong sendiri makanan yang satu ini sering dibuat saat ada acara-acara yang dilakukan oleh warga misalnya pada acara pernikahan, akikah maupun acara-acara lainnya. Masakan ini biasanya disajikan untuk masyarakat yang bekerja untuk acara yang dilangsungkan pada waktu makan siang maupun makan malam yang disajikan bersama nasi putih. Namun tidak sedikit juga para ibu rumah tangga yang biasa menyajikan masakan ini untuk keluarganya, masakan ini dapat dibuat kapan saja jika ada kesempatan karena bahan dasarnya sangat mudah didapat yaitu kulit sapi, kulit sapi ini sendiri dalam keadaan kering dapat disimpan selama satu sampai dua tahun. Penyimpanan sebaiknya dilakukan di tempat yang kering. Adapun untuk nangka muda, nangka muda bukanlah sesuatu yang sulit dijumpai bagi masyarakat pedesaan karena sebagian masyarakat memanfaatkan tanaman nangka sebagai pelindung bagi tanaman perkebunan.

Dalam proses pembuatan sambalak kadonten ini dimulai dengan membakar kulit sapi yang telah dikeringkan hingga hangus, namun jangan khawatir karena kulit hangus yang dihasilkan pada proses pembakaran ini tidak akan merusak kulit sapi. Pembakaran ini bertujuan untuk menghilangkan bulu-bulu dari ternak sapi yang masih menempel pada kulit. Setelah kulit sapi dibakar sampai hangus langkah selanjutnya yaitu dengan mengerok kulit dengan menggunakan pisau maka setelah proses pengerokan ini akan diperoleh kulit sapi yang berwarna cokelat muda.

Tahap selanjutnya yaitu dengan merebus kulit sapi yang telah melalui proses pembakaran dan pengerokan tadi. Masyarakat di Gura desa Buntu Mondong mempunyai kebiasaan merebus kulit sapi tadi selama satu hari sebelum diolah menjadi sambalak kadonten karena butuh perebusan semalaman dengan tungku tradisional yang menggunakan bahan bakar kayu untuk mendapatkan kulit sapi yang benar- benar empuk.

Demikian juga untuk nangka muda, nangka muda dikupas menggunakan golok seperti halnya mengupas buah sukun. Nangka yang masih muda menghasilkan lebih banyak getah dari nangka yang sudah matang. Setelah dikupas nangka dibiarkan beberapa saat untuk benar-benar menghilangkan getahnya. Setelah itu dipotong menjadi beberapa bagian dengan ukuran  besar dan kemudian direbus hingga empuk, perebusan ini dapat memakan waktu semalaman sama halnya dengan perebusan kulit sapi . Perebusan ini bertujuan membuat daging dan biji buah nangka menjadi empuk. Setelah itu nangka dipotong kecil-kecil menyerupai bentuk dadu.

Setelah proses perebusan, kulit sapi dan nangka muda dicuci kemudian diiris kecil-kecil menyerupai bentuk dadu dan kemudian kulit sapi dan nangka muda siap diolah menjadi sambalak kadonten yang legendaris bagi masyarakat Duri.

Dalam proses pembuatan sambalak kadonten membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut :

  1. Alat :
  2. Pisau
  3. Wajan
  4. Talanan
  5. Tungku
  6. Mangko saji
  7. Bahan :
  8. Kulit sapi
  9. Nangka muda
  10. Buncis (jika perlu)
  11. Santan kelapa
  12. Bawang goreng
  13. minyak goreng secukupnya
  14. Serai
  15. Lengkuas
  16. Lada
  17. Garam dan penyedap rasa
  18. Daun salam
  19. Kelapa sangrai yang telah ditumbuk
  20. Bumbu (dihaluskan) :
  21. Bawang putih
  22. Bawang merah
  23. Lombok besar
  24. Kemiri
  25. Jahe

Cara memasaknya dimulai dengan menghaluskan bawang merah, bawang putih, lombok besar, kemiri dan jahe kemudian panaskan minyak dalam wajan hingga panas lalu masukkan bumbu yang sudah di haluskan,serai yang dimemarkan dan lengkuas yang diiris-iris dan ditumis sampai harum kemudian disisihkan.

Masukkan santan ke dalam wajan besar kemudian masak di atas api sedang dan masukkan bumbu yang telah ditumis sampai mendidih. Setelah mendidih masukkan nangka muda dan kulit sapi yang telah direbus dan dipotong-potong kecil , buncis, garam, lada, daun salam dan penyedap rasa. Masak sampai mendidih lalu masukkan kelapa sangrai yang telah ditumbuk dan masak kembali hingga airnya tinggal sedikit lalu angkat.

Sambalak Kadonten. Telah siap disajikan. (Gura, 4 Agustus 2016)

Setelah itu sambalak kadonten siap disajikan dalam keadaan hangat dengan taburan bawang goreng dan sambalak kadonten pun siap menjadi teman makan anda. Layaknya daging sapi kulit sapi juga memiliki kandungan gizi seperti protein dalam bentuk kolagen, purin, kolestrol yang diperlukan oleh tubuh manusia.

Pada masa sekarang ini sambalak kadonten hanya dapat ditemui di daerah-daerah tertentu, salah satunya di Desa Buntu Mondong, kecamatan Buntu Batu, kabupaten Enrekang. Oleh karena itu, sebaiknya generasi muda bisa melestarikan makanan-makanan daerah seperti sambalak kadonten agar tidak hilang tergerus oleh masakan-masakan moderen.

 

Penulis adalah Pelajar SMA Negeri 1 Baraka, bisa dihubungi melalui surel muh.achyarardat@yahoo.com

Baje Rappo

oleh Suhera Bunik

Tanah Massenrenmpulu juga mempunyai makanan tradisional yang telah dikenal di sulsel baje rappo atau baje canggoreng. Baje ini adalah kue yang bahan dasarnya kacang tanah dan gula merah dan proses pembuatanya pun cukup mudah. Baje rappo ini salah satu cemilan Enrekang yang biasanya dijadikan oleh-oleh untuk teman ataupun dosen bagi para mahasiswa. Dan biasanya cemilan ini sering dipilih dalam acara khusus seperti pada saat panen bawang karena selain pembuatanya yang cukup mudah juga sangat praktis dibawa kemana-mana, jangan lupa rasanya yang istimewa dan mempunyai ciri khas yang unik sehingga cemilan ini digemari bayak orang.

Kue asal Enrekang ini memang berbeda dengan cemilan di kota-kota, berbeda mulai dari pegemasan, rasa hingga kebersihan. Kue khas Enrekang ini dibungkus dengan kulit jagung, sedangkan kue kota pada umunya menggunakan wadah bahan plastik, bahkan diduga memakai pewarna ataupun pengawet yang bertujuan untuk menarik minat pembeli.

Baje rappo ini adalah salah satu makanan khas Enrekang yang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan makanan lainya, karena baje rappo dibungkus dengan menggunakan kulit jagung kering. Cara pembuatan baje rappo ini pun cukup mudah dibanding dengan baje pulut. Baje rappo tidak perlu menggunakan kelapa parut, sedangkan kelapa parut pada baje pulut merupakan bahan dasar dalam pembuatannya untuk menciptakan rasa gurih. Bahan dasar pembuatan baje rappo adalah rappo canggoreng atau kacang tanah gula merah dan air secukupnya.

Cara pembuatanya pun cukup mudah yaitu pertama kacang tanah digoreng tanpa minyak hingga matang, selanjutnya gula merah dimasak dengan air secukupnya dengan menggunakan wajan (pamuttu dalam bahasa Duri), saat gula masak api dikecilkan. Kemudian kacang yang sudah bersih dimasukan, dengan api kecil sambil terus diaduk-aduk hingga merata dan warnanya kekuningan. Lalu siapkan wadah yang datar dan lebar,  dialasi dengan plastik yang sudah dioleskan minyak. Adonan legit yang sedikit lengket dan beraroma manis ini kemudian dibungkus menggunakan kulit jagung kering.

Saat proses pembungkusan selesai proses selanjutnya adalah pendiginan. Setelah adonan dingin waktunya pegemasan. Baje rappo biasanya dimasukkan dalam kemasan plastik yang berisi 8 bungkus, jika pengolahan  ingin memasarkanya. Tapi ada juga yang memproduksi hanya untuk dijadikan cemilan di rumah atau lainnya.  Untuk  pembuatan baje rappo canggoreng ini bisa juga digunakan kacang tanah kupas kulit yang lebih praktis penggunaanya. Namun, karena harga kacang tanah kupas kulit agak lebih mahal, maka biasanya pengolah lebih memilih menggunakan kacang yang belum dikupas kulit arinya. Dengan kulit ari kacang tanah akan menjadi lebih mudah dikelupas.

Harga satu ikat baje rappo biasanya berkisar Rp. 5.000 sampai Rp. 20.000. Kita dapat memperoleh baje roppo di bagian Kotu Enrekang pinggiran jalan raya. Peminat baje rappo tersebut biasanya pemudik yang dijadikan oleh-oleh untuk para keluarga, teman dan mahasiswa yang menjadikan oleh-oleh untuk dosen kampus. Dalam pegelolahan baje rappo ini biasanya para pegelolah mendapat keuntugan dua ribu rupiah untuk satu bungkus,  keuntungan tersebut dikembalikan menjadi modal yang digunakan sekali produksi.

Satu kali pembuatan biasanya memperoleh keuntugan sejuta dalam sekali pembuatan 20 liter kacang tanah dan menghasilkan dua ratus bungkus. Biasanya baje rappo ini dititipkan kepada warung lain yang menjual lebih mahal yaitu pembuat menjual dengan harga Rp. 8.000, maka warung tempat penitipan menjual dengan harga Rp. 10.000. Sehingga memiliki keuntungan yang sama yaitu Rp. 2.000 per kemasan. Namun harga tersebut pun belum menentu jika semakin banyak peminat baje rappo biasanya pembuat menjual seharga Rp. 15.000 atau bahkan sampai Rp. 20.000, berdasarkan situasi dan kondisi, apabila jarang pembeli yang lewat atau singgah maka pemproduksi pun biasa menjual dengan harga yang cukup murah. Kebanyakan pembeli baje rappo adalah pegendara yang  berwisata.

Adonan baje rappo canggoreng ini hanya bertahan hingga tiga minggu saja karena pengolah tidak menggunakan bahan pegawet, bukan hanya baje rappo, kue merah, buronggo, doko-doko, dangke dan lainnya yang merupakan makanan khas Enrekang tidak pernah menggunakan bahan tersebut dalam proses pembuatanya, sehingga makan khas Enrekang merupakan makanan yang cukup steril, dan banyak digemari oleh masyarakat luar. Seperti di kota Makassar makanan khas ini cukup terkenal bahkan banyak wisata  di kota besar yang sengaja berkunjung hanya untuk minikmati kuliner-kuliner khas Enrekang. Selain rasanya yang memang berbeda dengan kuliner lainya juga pegemasan yang berbeda mulai dari daun pisang, kulit jagung hingga daun kelapa muda. Sehingga apabila ingin berkunjung di Kabupaten Enrekang sangat tidak lengkap tanpa menikmati cemilan/kue ataupun makanan kuliner khas Enrekang. Dan jangan lupa  menjadikan baje rappo atau baje canggoreng dijadikan oleh-oleh.

 

Penulis adalah Pelajar SMAN 1 Anggeraja

Ba’tan Tanaman Bernutrisi yang Terabaikan

oleh Dwila Nur Haq

Jawawut yang dalam bahasa Duri/Enrekang di sebut Ba’tan merupakan salah satu tanaman pangan. Tinggi tanaman ini berkisar antara 90-150 cm bahkan ada yang lebih dari itu. Tanaman ini kurang tahan terhadap genangan air ketika masa pertumbuhan layaknya padi, namun rentan juga dengan musim kemarau yang berkepanjangan. Bulirnya kecil hanya memiliki diameter sekitar 3 mm saja.

Warna bulirnya beraneka ragam mulai dari warna hijau, kuning, ungu, hitam hingga jingga kecokelatan. Ba’tan siap panen setelah berumur  hari. Jawawut bisa tumbuh di berbagai jenis tanah, dari tanah liat hingga tanah yang mengandung banyak pasir. Tanaman ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1.800 mdpl, sangat cocok untuk daerah di Enrekang. Sayangnya untuk saat ini sudah sangat sulit untuk dijumpai.

Tanaman ba’tan yang berusia 60 hari

Di Kabupaten Enrekang wilayah Duri terdapat jawawut di desa Tangru, Kecamatan Malua, Kabupaten Enrekang. Hanya sebagian kecil warga di desa ini yang menanam tanaman ini. Salah satunya petani ba’tan Bapak Abd.Kadir (45) yang mempunyai ladang ba’tan di Desa Tangru. Ladangnya tidak terlalu luas, hanya sekitar  meter saja. Kata Pak Kadir “Pada zaman dahulu, orang-orang di sini hanya memakan ba’tan sebagai asupan pengganti karbohidrat. Karena pada zaman dahulu padi sangat sulit untuk ditemukan di daerah kami. Namun tanaman bernutrisi ini telah diabaikan oleh masyarakat di daerah kami”.

Cara penanaman ba’tan sangat sederhana cukup dengan ditabur di ladang. Namun pada kenyataannya tanaman yang mudah ditanam ini sudah sangat jarang dijumpai di Enrekang. “Ba’tan di sini tidak disiram, murni bantuan dari air hujan” lanjut Pak Kadir dengan penuh semangatnya. Pada saat bulirnya telah terisi, ba’tan harus dijaga layaknya ketika menjaga padi dari burung pipit. Ba’tan dipanen dengan cara memetik ujung tangkai bulirnya saja. Selanjutnya akan dijemur dengan sinar matahari guna mempermudah pelepasan kulit pada bulirnya. Cara memisahkannya cukup dengan ditumbuk menggunakan issong yaitu alat penumbuk tradisional dari kayu, ataupun cukup dengan meremas-remas bulirnya saja.

Masyarakat di Desa Tangru biasanya mengolah ba’tan menjadi nasi, dadoro atau dodol, baje, lappa-lappa, sokko bahkan dibuat menjadi tepung. Pengelolahan ba’tan yang paling sering dilakukan adalah mengolahnya menjadi sokko dengan pemanfaatannya sama dengan mengolah beras ketan yang kemudian dicampur dengan kelapa dan gula merah. Selain sebagai bahan makanan, ba’tan kerap dipergunakan sebagai pakan ternak terutama daunnya dan sebagai pakan burung.

Observasi Ba’tan yang berusia 60 hari

Harga ba’tan per liternya seharga Rp.27.000 sangat jauh dari harga beras yang hanya berharga Rp.7.000 per liternya saja. Mungkin perbedaan harga yang cukup jauh ini membuat warga jarang mengonsumsi ba’tan. Dari segi nutrisi, ba’tan jauh lebih baik dibandingkan dengan beras. Hal ini ditunjukkan dengan kandungan karbohidratnya sebanyak 75% yang mendekati kandungan karbohidrat beras yaitu sebesar 79%. Keunggulan lainnya adalah proteinnya sebanyak 11% yang lebih tinggi dari beras yang hanya 7% saja. Selain itu ba’tan mengandung lemak sebanyak 3,5 gr serta  vitamin A, B1 dan C yang baik bagi tubuh.

Banyak masyarakat yang menganggap tanaman ini sudah kuno karena sangat jarang kita jumpai. Bahkan sebagian masyarakat menganggap tanaman ini sudah kuno. Ketidakpedulian masyarakat terhadap tanaman ini membuat keberadaannya sangat sulit untuk dijumpai. Bahkan warga Enrekang ada yang tidak mengetahui jenis tanaman ini. Cara merawatnya juga tidak terlalu sulit, dan pertumbuhannya yang sangat singkat. Selain menyehatkan, ba’tan juga dapat membantu perekonomian masyarakat Enrekang karena harganya yang cukup menjanjikan.

Banyaknya hama seperti walang sangit dan burung pipit kerap membuat petani risau. Petani biasanya mengusir burung pipit dengan membentangkan tali di keseluruh ujung ladang dan pada ujung tali dilengkapi dengan alat-alat yang dapat menghasilkan suara yang bising seperti kaleng bekas. Ketika burung pipit hinggap di tanaman ba’tan petani segera menarik tali yang tersambung satu dengan yang lainnya sehingga ketika tali ditarik akan menghasilkan bunyi diseluruh ladang dan burung pipit pun pergi.

Kumbang. Salah satu hama yang kerap mengannggu tanaman ba’tan

Sayangnya kini budidaya ba’tan semakin sedikit. Bahkan menjadi tanaman yang sangat sulit ditemukan. Padahal dengan kekayaan nutrisi yang dimilikinya, ba’tan bisa menopang ketahanan pangan di Enrekang. Sayangnya karena kurangnya perhatian pemerintah untuk tanaman ini sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui kandungan yang terdapat pada tanaman ini. Sebaiknya pemerintah memberi penyuluhan kepada petani bagaimana merawat tanaman ini dengan baik sehingga menghasilkan kualitas ba’tan yang baik pula. Sebagai generasi penerus, sebaiknya kita mempertimbangkan sesuatu hal demi kebaikan. Ba’tan merupakan tanaman yang sangat baik bagi kesehatan, lalu kenapa kita menyia-nyiakan tanaman bernutrisi ini? Masyarakat dapat mengolah Ba’tan ke dalam produk yang lebih kreatif agar dapat digemari oleh kalangan konsumen. Kita berharap Ba’tan akan lebih dikenal luas lagi oleh masyarakat bukan hanya berita tentang Enrekang  terkenal dengan pulu mandoti, dangke, dll. Tetapi terkenal dengan ba’tan dengan kualitas terbaiknya pula.

Oleh karena itu pemerintah harus lebih memerhatikan lagi tanaman pangan ini agar dapat menjadi dasar untuk membantu terlaksananya diversifikasi pangan yang selanjutnya dapat mendorong terwujudnya peningkatan ketahanan pangan masyarakat Enrekang.

Penulis adalah Pelajar SMAN 5 Enrekang