Pekan Literasi 2019

Daftar di 👨‍💻 bit.ly/2tkIcVx
Dispustaka Enrekang akan mengadakan kegiatan Pekan Literasi 2019. Beberapa item kegiatan yang diadakan diantaranya:
1. Workshop Menulis Artikel
2. Short Course Menulis Puisi
3. Workshop Ekonomi Digital
4. Workshop Story Telling
5. Workshop Video Jounalism
6. Pendidikan Pemustaka: Motivasi Membaca
7. Lomba Mewarnai Tingkat TK/PAUD
8. Lomba Pidato Literasi Tingkat SLTP
9. Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat SLTA
10.Pameran Buku dan Foto

Bagi yang ingin melakukan pendaftaran dan melihat jadwal lengkapnya, silahkan mengklik tautan 👨‍💻 bit.ly/2tkIcVx

TOBANA

Oleh Musdin Musakkir

“Barangsiapa meringankan satu kesusahan orang mukmin dari kesusahan-kesusahannya di dunia, maka Allah akan meringankan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dalam kesulitan, Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutup aib orang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu suka menolong saudaranya”. ( HR. Muslim Juz 4, hal.2074)

Minggu lalu, saya melihat sekelompok orang mencabut dan memanen bawang, mengikat daunnya dengan karet gelang lalu mengumpulkannya ke dalam sebuah tenda yang sudah disiapkan. Sebuah pemandangan yang biasa bagi masyarakat Enrekang, khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Anggeraja hingga di ujung utara “Bumi Massenrempulu” (sebutan khas Kabupaten Enrekang).

Tiga hari kemudian, sekelompok warga dengan peralatan seadanya, menambal jalan beton yang kian menganga di salah satu gang sempit di pinggiran kota Enrekang. Dan kemarin, sepasang suami istri dengan senyum sumringah, menyaksikan rumahnya dibopong warga, tiang-tiangnya diberi penyangga dari kayu. Pasak-pasaknya dipasangkan dengan tiang agar tegak dan kokoh.

Rumah baru untuk keluarga baru, membuat terharu. Tak ada di antara mereka (warga) yang menerima upah, semua atas dasar sukarela. Saya melihatnya sebagai tradisi. Fenomena yang sering muncul namun tetap terasa alami, dan masih dapat disaksikan di tana rigalla, tana ria’bussungi.

Begitulah, sajian budaya dan tradisi yang ditunjukkan bagi siapa saja yang hendak bertamu ke Enrekang. Menunya pun menarik, membuat orang-orang akan ketagihan dan ingin berkunjung kembali. Filosofi yang tak terdefinisikan, karena lebih mudah dipahami dengan tindakan. Talk less do more, agaknya menarik untuk disematkan pada masyarakat Enrekang.

Saat masih di bangku sekolah, guru saya pernah bilang, Enrekang punya budaya tolong-menolong, bantu-membantu, dan nasehat-menasehati (Toba’na). Unik dan inspiratif. “Kaum muda generasi Enrekang, harus menanamkan kebiasaan itu”, katanya.

Koentjaraningrat, pakar kebudayaan menyodorkan beberapa unsur-unsur kebudayaan. Ada dua unsur tersebut yang sangat lekat di masyarakat Enrekang yaitu sistem kemasyarakatan (organisasi sosial) dan sistem religi. Organisasi sosial telah jauh sebelumnya nampak dan agaknya akan selalu bertahan jika dipelihara dengan baik. Begitupun dengan sistem religi, dimana orang Enrekang memiliki hubungan yang baik secara vertikal, maupun horizontal. Sering berkumpul dan membahas sesuatu secara bersama-sama sebagai manifestasi dari perintah agar selalu bermusyawarah dalam memutuskan sesuatu.

Tak ada niat untuk mengadu tradisi dan budaya masyarakat Enrekang dengan suku lainnya di Indonesia. Namun, kekerabatan dan persaudaraan yang terjalin erat antara sesama masyarakat tidak lantas ditemui di tempat lain. Apalagi di perkotaan yang serba nafsi-nafsi (egois). Cenderung lebih suka melakukan segalanya sendiri, malah ada yang tidak kenal dengan tetangga sendiri.

Sabda Nabi tentang meringankan beban saudara-saudara di awal, seperti selalu lekat dengan keseharian masyarakat Enrekang. Seakan dengan sendirinya mengisi nilai-nilai kehidupan. Sebuah tabungan perlindungan di akhirat kelak. Ya, bukankah Allah akan membalas setiap kebaikan yang kita lakukan dan membebaskan kita dari kesusahan di antara sekian banyak kesusahan di sana?

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Senang melihat saudara senang, ikut berempati kala ada yang menghadapi cobaan berat. Begitupun, saling menasehati jika ada kekeliruan dalam tingkah laku, ucapan dan prasangka. Tokoh masyarakat sangat berperan dalam mengatasi persoalan sosial, meminimalisir tindak kriminal, selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat, berpesan dan saling mengingatkan untuk bersabar.

Lebih lanjut, saling menjaga kehormatan saudara kita, juga disebutkan dalam Al-Qur’an, memuliakannya, tidak menceritakan kejelekannya. Saling melindungi secara psikologis. Dan masyarakat Enrekang pun memiliki hal ini.
Selain itu, aspek religius masyarakat Enrekang menjadi tameng terhadap budaya luar yang sudah menggerogoti tradisi masyarakat seperti pola hidup hedonis, agar jangan sampai berbaur dalam kehidupan.

Mari kembali mengutip sebuah ayat Al-Qur’an dalam surah Al-Maidah ayat 2 : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”.

Perintah yang kita yakini (insha Allah) bersama sebagai makhluk beriman, adalah anjuran bahwa budaya dan tradisi tolong menolong itu haruslah yang mengandung unsur kebaikan, bermanfaat, dan menginspirasi. Bukan dalam rangka melakukan sesuatu yang menjauhkan kita dari aspek religius, memutus tali silaturahim kita.

Penulis adalah mahasiswa BK STKIP Muhammadiyah Enrekang

Buku Versus Gadget

Oleh Wahyuni

Di era digital seperti saat ini para remaja sudah sangat kental dengan media sosial. Bukan hanya anak remaja, namun termasuk pada semua kalangan baik orang tua ataupun anak-anak usia sekolah dasar.

Salah satu faktor pemicu turunnya minat membaca pada anak-anak usia remaja adalah karena kecenderungan bersosial media saat memiliki waktu luang. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan bermain game online ataupun sekedar bermain gadget.

Namun jika dibimbing dengan baik dan serius, media sosial bisa dijadikan wadah atau sarana untuk memperkenalkan remaja tentang pentingnnya membaca buku. Tentu yang tak kalah penting adalah ada kemauaan dari anak itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa perilaku remaja yang memicu anak-anak malas untuk membaca buku:

  1. Lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah bersama gadget

Menurut mereka menghabiskan waktu di rumah dengan gadget lebih menyenangkan karena bisa menghibur pikiran mereka yang beberapa hari di genjot dengan mata pelajaran di sekolah.  Menurut saya dengan membaca buku, mereka lebih bisa me-refresh otak dibandingkan dengan gadget.

  1. Lebih banyak membaca status di medsos

Katanya untuk apa lagi membaca buku sedang kami setiap hari sudah membaca, walaupun itu di medsos. Inilah salah satu faktor yang paling sering kita jumpai. Mereka lebih cenderung suka membaca hal-hal yang kurang mendidik, dengan dalih itu lebih menyenangkan dan  membacanya  pun gampang karena susunan katanya sedikit.

  1. Membaca lebih cepat mengantuk

Alasan tersebut adalah jurus jitu bagi anak muda saat disuguhi buku. Seribu satu alasan mereka akan menghindarinya karena bermain gadget lebih seru dan lebih menyenangkan. Dibanding jika harus membaca buku  yang akan membuat mata cepat lelah dan mengantuk

  1. Lebih asyik nongkrong di kafe daripada di perpustakaan

Anggapan seperti itu mungkin karena belum merasakan manfaat dari membaca. Berbeda halnya bagi mereka yang sudah cinta dengan membaca, akan merasa bahwa waktu terlau singkat hingga waktu untuk membaca tidak cukup.

Itulah beberapa faktor pemicu kurang minat anak dalam membaca di era digital. Sudah seharusnya anak remaja bisa diarahkan menemukan kesenangan membaca. Dan semoga kita sebagai generasi penerus menggunakan gadget dengan bijak.

Si Titin

oleh Wahyuni

Tiga hari terakhir aku mulai memperhatikan keberadaanya, gadis kumel lagi lusuh berpakaian compang camping bahkan terkadang memakai pakaian yang lebih besar dari badannya, anak itu duduk menyilangkan kakinya memeluk piring kosong berwarna putih, ia mengangkat kepalanya pelan dan melihat ke arahku sembari tersenyum tipis, tapi pikirku dalam hati “pasti dia sengaja senyum agar aku bisa tersentuh dan memberinya sesuatu, tapi aku tidak akan tertipu dengan penampilannya”, begitu pikirku.

Si titin dan neneknya itu menetap di sebuah gubuk. Entah karena memang hanya itu milik mereka satu-satunya. Enrekang Duri memang terkenal dengan hutannya yang masih lebat walaupun sekarang ada beberapa yang mulai gundul. Meski bukan di hutan melainkan di pinggiran desa-desa namun Nek Titin tetap giat bekerja, baik menjadi buruh tani (Enrekang desa agrobisnis) ataupun pekerjaan lain yang dapat menghasilkan sesuatu. Semua itu untuk mengganjal perut mereka setiap harinya, wajarlah Nek Titin bekerja serabutan karena dia sudah tidak kuat lagi untuk bertani. Apalagi memang di daerah Enrekang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani baik di kota maupun di desa .

“Ah memang sudah biasa dia seperti itu mungkin dia lapar, tapi wajar sih ia begitu”, gerutuku dalam hati. Setiap hari sepulang menemani neneknya berkeliling kampung mengetok pintu dengan harap mendapat sesuatu yang dapat mengganjal perutnya.

“Ah sudah biasa jika mereka kerjanya hanya meminta –minta, neneknya kan sudah tua sementara si Titin baru berumur 5 tahun”, bisikku dalam hati.

Tapi senja itu ketika mentari mulai menghangat, nenek Titin terlihat mondar-mandir di sekitaran sungai kampung Duri, seorang warga menghampiri seraya bertanya “lagi cari apa Nek?”.

“Ini nenek lagi cari…….”.

Belum selesai jawaban Nenek Titin, aku pun berlalu begitu saja tanpa mendengar lebih lanjut cerita Nek Titin. Niatku hanya agar bisa cepat pulang sampai kerumah. Ketika aku melewati gubuk Nek Titin, lagi-lagi aku melihat anak itu duduk sembari menyilangkan kaki dan masih memeluk piring kosongnya. Namun kali ini ada yang berbeda, dia tidak menatapku dengan senyuman di bibirnya tapi dia mengkerutkan keningnya dan senyumnya berganti dengan wajah muram seolah ia marah padaku, dan aku tak menanggapinya. Aku ingin berlalu saat akan melangkahkan kaki seketika Titin memanggilku, “Om, Titin Lapar”.

“Tuh kan dia memang lapar”.

Bagaimana dia tak lapar, neneknya saja sejak siang tadi kerjanya hanya mondar-mandir di sungai. Tanpa menemukan ikan ataupun sesuatu untuk Titin, sampai magrib begini pun ia belum kembali, jawabku sekenanya.
Keesokan harinya seperti biasa jika menuju tempat kerjaku pasti melewati Rumah Nek Titin. Tapi ada yang aneh hari ini. Dari jauh aku melihat keramaian di rumah nenek Titin, semakin aku mendekat semakin jelas terpasang di depan rumah Nek Titin terpasang bendera kuning.

“Permisi pak” kataku sambil menghentikan langkah pak arif yang akan masuk ke rumah Nek Titin
“iya”, jawabnya singkat.

“Pak kok rumah Nek Titin d pasangi bendera kuning memenagnya siapa yang meninggal Pak, Nek Titin Ya”, tanyaku.

“Bukan tapi Titin”.

Innalillahiwainnailahirojiun“, sahutku.

“Kapan Titin Meninggal Pak”, tanyaku kembali.

“Sudah Empat hari yang lalu nak, tapi baru kemarin jasadnya ditemukan di Sungai Kampung, itupun setelah Nek titin memberitahukanku kemarin.

“Dengan segera kami melakukan pencarian dan mirisnya lagi kata neneknya, Si Titin sangat lapar hingga ia tak sabar menunggu neneknya yang sedang membasuh mukanya di aliran sungai, hingga ia berani menyeberangi jembatan dan ia pun terjatuh. Sudah beberapa hari neneknya mencari di pinggiran sungai namun belum ketemu hingga datang bantuan dari warga”, lanjutnya bercerita.

Bagai di siram air es, tubuhku langsung menggigil, banyak sekali pertanyaan di kepalaku. Jika Titin menghilang atau bahkan meninggal sejak 4 hari yang lalu, lantas siapa yang selalu aku lihat di depan gubuk Nek Titin. Suara siapa yang memanggil namaku ketika itu. sontak bulu kudukku berdiri.

Takut bercampur haru serta sesal. Mengapa aku tidak bisa membantu atau melakukan sesuatu untuk mereka sekadar memberi recehan kepada Si Titin tiap pulang dari tempat kerjaku. Ah kenapa aku ini menjadi begitu pelit, mengapa hatiku tidak tergerak untuk menolong mereka, apakah ini teguran bagiku?

Mulai hari ini aku akan berjanji tidak akan tinggal diam dengan penderitaan orang di sekitarku selama aku masih mampu.

Di Jeruji Menulis

Lewat imajinasilah, seseorang akan menembus ruang yang kedap. Jeruji yang sempit mungkin tak ubahnya ilusi. Di ruang terbatas orang bisa saja melakukan sesuatu yang melampaui batas. Resepnya, menulislah!

Banyak tulisan yang lahir dari penjara. Entah karena penulis yang dipenjara, atau bukan siapa-siapa. Karena menulis bukanlah soal siapa dia, tapi menulis di ruang terbatas adalah cara membebaskan diri yang “sunyi”, pun yang senduh. Semacam menyembuhkan diri dengan imajinasi. Bertaubat dengan pikir dan pena.

Rutan Enrekang punya ruang menumbuhkan imajinasi dan olah pikir bernama Perpustakaan. Tapi juga punya pegawai yang ikhtiarnya luar biasa dalam membina warganya. Mengajak para warganya belajar dengan beragam kreativitas dan kegiatan yang produktif. Sungguh akan membentangkan pemandangan yang optimistik.

Efeknya mungkin dapat dilihat dari untaian warganya dalam kumpulan tulisan saat berlatih. Hal yang sederhana dan singkat, tapi menenteramkan. Selamat membaca!

Klik disini untuk membaca Kumpulan Tulisan WBP Enrekang