Bincang Buku Pendidikan Posmodernisme

Bertempat di Ruang Baca Anak, Klub Baca Pemustaka melangsungkan bincang buku. Kali ini, buku yang dibahas yaitu Pendidikan Posmodernisme karya Mukhrizal Arif dkk. Bab pertama dimulai dengan bahasan Teori Pendidikan Kritis Jurgen Habermas yang dibahas oleh Ade Nurul (mahasiswa PBI STKIP Muhammadiyah Enrekang).

Sebagai pengantar diskusi, Ade Nurul mengulas riwayat hidup Jurgen Habermas. Setelah itu ia membahas riwayat akademik, dan teori kritisnya. Salah satu yang menjadi perhatian dalam bahasan Ade Nurul ialah tindakan instrumental dan tindakan komunikatif.

Ia menjelaskan bahwa tindakan komunikatif yang disampaikan Habermas merupakan konstribusi pemikirannya dalam merespon tradisi pemikiran Mazhab Frakfurt. Walaupun sebenarnya masih banyak pemikirannya yang belum sempat diulas dalam pengantarnya.

Membicangkan Aristoteles

Siang itu di pojok ruang baca Perpustakaam Umum Kabupaten Enrekang, selepas menunaikan shalat jumat (13/10/2019), Nurul Q Fauzy sudah duduk menanti peserta Bincang “Pemikiran Aristoteles”. Datang dengan semangat berbagi atas hasil membaca terhadap berbagai sumber tentang Aristoteles.

Ia memang didaulat minggu lalu menjadi pemantik bincang. Ia menebus ketidakhadirannya pada saat mendapat giliran membahas Plato bulan lalu. Tapi jangan salah, ia berkesempatan melengkapi pengetahuannya atas dua filsuf yang punya interaksi begitu erat antara guru dan murid.

Sejam kami menunggu peserta yang entah berapa jumlahnya. Tampak Suherman, seorang dosen yang juga teman diskusi mahasiswa, bercengkrama dengan santai bersama Irsan, pustakawan yang fasilitator Klub Baca Pemustaka ini. Hingga pukul 15.00, dengan 5 orang yang sempat hadir, kami memulai agenda bincang dengan sesantai mungkin.

NQ Qauzy membuka pembahasan dengan pertama-tama menceritakan pengembaraan Aristoteles dalam dunia pemikiran. Lalu menitikkan poin-poin gagasannya, diantaranya tentang logika, silogisme, kausalitas (sebab-akibat), hingga empirisme.

Qauzy dengan kagum, berpendapat bahwa pemikiran Aristoteles begitu banyak berkonstribusi bagi kehidupan intelektual hari ini. Ia membaca, pengaruh pemikiran Aristoteles menjadi inspirasi tokoh-tokoh pembahas teologi seperti Thomas Aquinas dan Ibnu Rusyd. Bahkan Engky, panggilan Qauzy, menyatakan wajar bila Aristoteles disebut bapak Logika.

Setelah diberi pengantar oleh Engky, lanjut giliran peserta berbicara. Dedi menekankan pada perbedaan pemikiran Aristoteles dengan sang guru Plato. Meski berangkat dari respon terhadap Plato, Aristoteles punya ‘temuan’ perihal mendudukkan kebenaran. Plato berangkat dari idealisme, sementara Aristoteles menekankan pada hal yang konkret dari pengamatan.

Bincang Pemikiran Plato

Klub Baca Pemustaka kembali menggelar Bincang Seri Filsafat di Perpustakaan Umum Kabupaten Enrekang, Jumat, 4 Oktober 2019. Kali ini yang menjadi pemantik ialah Dedi Setiawan (Presma STKIP Muhammadiyah Enrekang).

Bincang yang berlangsung pada pukul 14.00 ini dihadiri 11 orang dari kalangan mahasiswa. Secara bergantian, mereka berbagi pengetahuan terkait riwayat dan pemikiran Plato.

Dedi Setiawan memberikan pengantar terkait konsep negara dan keadilan menurut Plato. Setelah menerangkan hal itu, ia juga menjelaskan terkait dunia idea yang dimaksudkan dalam pemikiran Plato.

Ulasan Dedi, konsep Plato menunjukkan adanya negara yang ideal, yang di dalamnya dipimpin oleh para filosof atau orang-orang yang cendekia. Negara yang demikian juga menandakan adanya kekuatan moral yang berangkat dari kebijaksanaan kaum cendekia.

Sementara itu, Engky, juga turut menguraikan bagaimana hubungan Plato dengan gurunya, Socrates. Dikatakannya, Plato banyak terinspirasi dari Socrates. Karena itu Plato kemudian banyak menuliskan dialog dan pemikiran Socrates. Lewat Plato-lah kita menjumpai jejak Socrates (yang memang tak pernah menulis).

Lebih lanjut, Engky menarasikan kaum sofis yang bersolek pada pidato yang indah. Menurutnya, kaum sofis hanya pandai berpidato untuk mempengaruhi. Berbeda dengan upaya Plato melalui Akademia, konsep pendidikannya mendorong pelajar menguasai matematika yang merupakan dasar berpikir logika.

Suasana bincang berlangsung santai. Saling mengisi terkait hasil bacaan pun terbagi secara dinamis. Karena itu, bincang tentang Plato serupa pengantar untuk lebih mengetahui filsuf yang punya pengaruh besar ini.

Ayo Berliterasi

Karya  :  Safira S

Kawan..

Pernahkah terlintas di pikiran kita tentang membaca..?

Hari ini di ruang pustaka,

Sepi tampak sepi..

Hanya sepintas, lalu lalang dan menghilang

Ruangan yang harusnya jadi tempat berliterasi

Tak lagi terlihat membaca terkonsentrasi

Tak lagi semarak tangan-tangan yang menarikan penanya

Tak lagi semangat menuangkan tintanya

Terlihat muda mudi lebih jeli dengan gadgetnya

Dengan mobile legendnya..

 

Kawan..

Tahukah kamu..

Membaca memperluas wawasan

Menambah pundi cakrawala

Menyingkap tabir sang surya

Meniti jalan menuju singgasana

Biarlah, ia menjadi teman dekatmu

Menghiasi duniamu

Mewarnai harimu..

 

Kawan..

Tahukah kamu..

Menulis menguatkan pikiran

Mempertajam paradigma

Menorehkan ilmu di atas langit khatulistiwa

Merengkuh asa insan cendekia

Biarlah, ia menjadi sahabatmu

Mengisi setiap langkah suksesmu

Dalam setiap hembusan nafasmu..

 

Kawan..

Jangan biarkan kemalasan menggerogoti jiwamu

Jangan izinkan kebodohan merasuki akalmu

Jangan relakan fatamorgana mengejewantah dalam sanubarimu

Jangan jadikan rasa acuh menghancurkan masa depanmu

Jangan, jangan sampai itu terjadi..

 

Kawan..

Ayo berliterasi..

Kita buat dunia indah bukan hanya dalam mimpi

Kita jadikan pustaka sebagai pusat referensi

Untuk menjadi pribadi cerdas mandiri..